Connect with us

Ralita FM

Karapan Sapi Perlu Dibenahi

Budaya

Karapan Sapi Perlu Dibenahi

Karapan Sapi Piala Presiden di Pamekasan tahun 2014

Karapan Sapi Piala Presiden di Pamekasan tahun 2014

PAMEKASAN, Ralitafm.com-Even kebudayaan Karapan Sapi Piala Presiden yang digelar setiap tahun di Kabupaten Pamekasan, perlu dibenahi dari segala sektor. Sebab banyak pengunjung yang kecewa atas penyelenggaraannya. Kekecewaan itu banyak disampaikan turis domestik dan turis manca negara beberapa waktu lalu kepada Bupati Pamekasan, Achmad Syafii.

Menurut Bupati Syafii, banyak turis mengeluh soal lamanya waktu sapi yang akan dilepas. Bahkan satu kali lepas, dua pasang sapi bisa menghabiskan waktu hingga 30 menit lebih. Hal itu membuat penonton jenuh. Oleh sebab itu, perlu ada aturan waktu yang jelas berapa menit sapi harus dilepas di lintasan.

“Lamanya waktu pelepasan itu berakibat terhadap molornya waktu. Sedangkan pengunjung ingin menonton karapan sapi sampai final. Habis adzan duhur sudah banyak penonton yang pulang,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Mantan Ketua DPRD Pamekasan ini menambahkan, lima tahun terakhir penyelenggaraan karapan sapi dilaksanakan sampai dua hari. Di hari pertama banyak turis yang datang karena bersamaan dengan hari libur. Namun di hari kedua, turis-turis sudah pulang semua dan enggan menunggu sampai tuntas. Di beberapa hotel sudah kosong para pengunjung yang ingin menonton karapan sapi.

“Karapan sapi sudah tidak menarik bagi penonton, tapi hanya menarik bagi petaruh saja,” ungkapnya.

Selain itu, atribut yang digunakan oleh panitia penyelenggara dan joki sapi karapan, tidak mencitrakan identitas Madura. Pakaian Madura itu dikenal dengan baju pesak warna hitam dan kaos dalam warna merah putih dan menggunakan udeng. Penampilan semacam itu, akan menambah karakter budaya Madura yang orisinil.

“Tahun depan aturan pakaian seperti itu sudah harus mulai diterapkan,” imbuhnya.

Diakui mantan anggota DPR RI ini, pola karapan sapi tahun ini sudah banyak mengalami perubahan dari pola kekerasan (rekeng) ke pola tanpa kekerasan (pakopak). Hal itu perlu dipertahankan agar kondisi sapi tidak mengalami kekerasan.

Yang tak kalah pentingnya, promosi waktu pelaksanaan kepada seluruh publik baik domestik maupun manca negara. Sebab, informasi soal karapan sapi masih belum maksimal dan kurang semarak. Hal itu membutuhkan peran serta media untuk membantu mempublikasikannya.

Kepala Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan, Jonathan Junianto mengaku, promosi karapan sapi, sapi sonok di media memang belum maksimal. Bahkan sepotong-sepotong. Oleh sebab itu, menjelang even kebudayaan sapi digelar, pihaknya akan menggandeng media massa untuk memberikan informasi yang utuh kepada publik.

“Nanti teman-teman wartawan akan kita libatkan dalam membackup informasinya agar tidak simpang siur,” kata Jonathan, beberapa waktu lalu.

Untuk melakukan pembenahan dari berbagai sektor, Bupati Pamekasan meminta kepada Bakorwil Pamekasan agar segera mengumpulkan Bupati se Madura, Ketua Dewan se Madura dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap penyelenggaraan karapan sapi, seperti tokoh Madura dan pemilik sapi karapan. Tujuannya agar karapan sapi memiliki satu rumusan bersama dan mengemas semenarik mungkin bagi pengunjung. Sebab dampaknya, kemasan yang bagus akan menarik minat masyarakat dan yang datang ke Pamekasan sudah pasti membawa uang.

“Uang yang mereka bawa akan menambah pendapatan bagi masyarakat Pamekasan,” tandasnya.

Untuk mengawal pelaksanaan karapan sapi tahun depan, Bupati Syafii memiliki ide kalau kepanitiaan akan dipasrahkan kepada TNI dan Polri. Sebab mereka bisa lebih tegas dalam menerapkan aturan, jika dibandingkan dengan panitia dari warga sipil. (Taufiqurrahman).

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Budaya

To Top